MOSAIK KHAYALAN
Mempesona! Ketika malam mengulum siang lewat
senjanya, bahkan masih begitu mempesona ditengah hiruk pikuk rimba beton ibukota.
Senja nampak begitu anggun melambai di atas jembatan penyebrangan Trans Jakarta Manggarai. Nampaknya
betul kata orang, “senja selalu menyenangkan. Kadang dia hitam kelam, kadang
dia merah merekah. Tapi langit, selalu menerima senja apa adanya.” (dikutip
dari Film SORE). Atau mungkin tepat kata Seno Gumira andai ada Negeri Senja,
dimana langit selalu merah keemasan dan setiap orang di negeri tersebut lalu
lalang dalam siluet. Dalam bayangannya, Negeri Senja tak pernah mengalami
malam, tak pernah mengalami pagi, dan tak pernah mengalami siang. Senja adalah
abadi di Negeri Senja, matahari selalu dalam keadaan merah membara dan siap
terbenam tapi tak pernah terbenam, sehingga seluruh dinding gedung, tembok
gang, dan kaca-kaca jendela selalu berkilat kemerah-merahan. Orang-orang bisa
terus menerus minum kopi sambil memandang langit semburat yang keemas-emasan.
Bahagia terus-menerus bertebaran di Negeri Senja seolah-olah tidak akan pernah
berubah lagi. Indah bukan?
Manggarai, nampak seperti sebuah nama di daerah
timur Indonesia. Ya Flores, Nusa Tenggara. Konon, menurut Rachmat Ruchiat dalam
bukunya Asal-Usul Nama Kota di Jakarta memang Manggarai ini merupakan sebuah
nama yang sengaja diberikan oleh penghuni awal yaitu sekelompok orang dari
Flores Barat, sebagai sebuah pengikat kenangan kampung yang ditinggalkannya.
Ah, kenangan. Nama dan kenangan keduanya memang sama indahnya. Mempesona,
seperti senja di Manggarai.
Terlepas dari tarian kesibukan, orkesta klakson,
ataupun nyiur dedebuan yang mewarnai Manggarai. Sesuatu mamaksaku menghentikan
langkah pantopel teplek, sesuatu yang terdengar indah, sama indahnya dengan
senja di Manggarai. Masih sama indahnya, meski dibawah kaki ini ribuan lidah
menggerutu dalam bisa karena lelah dengan macetnya ibu kota, atau ribuan peluh
pedagang asongan yang memanfaatkan momen kemacetan itu. Tisu kawe, permen Hexos,
aneka rokok, dan berkotak-kotak lem korea mereka tawarkan kesana kemari. Atau
puluhan jari tukang ojek pangkalan yang mencoba menjemput rejeki di tengah
gempuran ojek online yang berebak bak jamur di musim penghujan. Memicingkan
mata melewati jalan raya, pemandangan bocah-bocah mandi di sungai cokelat
terkadang mencuri perhatian para pengguna jalan. Nampaknya air sungai yang tak
lagi terang mampu memberikan kesegaran, barang sedikit. Namun, kali ini bukan
itu yang membuat pantopel templek ini terhenti. Bukan itu.
“Tarik nyet, anginnya di sono!” Terus saja
menarik sebuah senar sambil sesekali mengusap ingus dengan punggung tangannya.
“Woi, anjirr punya gue kaga terbang-terbang.”
Anak lainnya menimpali dengan nada yang tak kalah kerasnya
“Tariknya yang bener, ege!”
“Bawa lari aje kesana!”
“Lari ke mana njir?!”
“Ke tengah jalan.”
“Mati dong gue. Hahahaha.” gelak tawa mereka
memecah kesibukan Manggarai
“Ntar kalau gue jadi orang kaya, gue bakal bikin
lapangan buat kita main layangan.”
“Bikin yang gede, biar kaga dirusuh sama anak
gang sebelah.”
“Bikin yang ngga ada petugas yang make seragam.”
“Iya, bikin yang kaga ada tiang listrik sama
kabelnya, biar layangan gue kaga nyangkut mulu.”
“Hahaha, itu lu nya aja yang bego.”
Perlahan
pantopel teplek harus meninggalkan drama menyenangkan itu, karena mereka mulai
menyadari kehadiran si pantopel teplek. Seolah tak ingin membatasi kebahagiaan
mereka, aku melangkah melewati riuh gelak tawa bahagia mereka. Sembari sesekali
mengawasi kalau-kalau ada petugas Trans
Jakarta yang siap mengubah agenda
bahagia mereka menjadi skenario dramatisasi yang tak lagi enak untuk dipandang.
Aku mulai menggaruk bathok kepalaku yang tak terasa gatal.
Apa jadinya jika Ki Hajar Dewantara melihat ini,
segerombolan anak mengarungi khayalan bermain ditanah lapang, dan
merealisasikannya dengan bermain layangan di atas jembatan penyebrangan Trans Jakarta Manggarai. Hingga Tuhan
mengizinkanku merekam begitu kuat memori itu. Seolah untuk ku sampaikan pada
Bapak Pendidikan Indonesia itu, meski entah kapan. Namun, nampaknya aku harus
belajar beriman kepada takdir, dengan menghilangkan kata andai. Khayal terus
menemani langkah hingga bunyi lokomotif commuterline
Bogor-Tanah Abang-Duri, mengharuskan si pantopel teplek meninggalkan
Manggarai dengan layangan diatas jembatan penyeberangan.
***
Hari ini, ilmu pengetahuan dan teknologi adalah
bagian dari hempas nafas setiap manusia modern. Tantangan global dengan
berbagai ornamennya melanda setiap ruas aspek kehidupan manusia bernegara. Hal
ini juga terjadi dalam aspek pendidikan di Indonesia. Seperti yang kita
ketahui, dalam pendidikan formal, misalnya kurikulum 2013 mensyaratkan
penggunaan teknologi dalam proses pembelajaran. Sebagai salah satu wujud upaya
menjawab tantangan global Indonesia dalam menghadapi MEA, AFTA, WTO, APEC, dan lain sebagainya. Sehingga, definisi
pendidikan beralih menjadi pelatihan. Joe L. Kinchelo, menegaskan “ketika
tujuan pendidikan di definisikan proses pelatihan tentang sesuatu yang
diperuntukan bisnis dan industri secara khusus, maka kualitas pendidikan akan
menurun”.[1]
Desakan ekonomi global membawa masyarakat mencari sertifikat pendidikan demi
kelangsungan hidup mereka, yaitu lapangan pekerjaan yang lebih menjajikan,
meski harus ditukar dengan hilangnya esensi pendidikan itu sendiri. Akibatnya,
pendidikan menjadi sebuah realita “pasar pendidikan” yang bernuansa
praktis-ekonomis, ketimbang sebagai sebuah arena kebudayaan yang menjunjung
tinggi kemanusiaan dengan segala proses alamiah dan sosialnya.[2]
Lebih jelas lagi, pendidikan akan memberikan
stimulus fetisisme materi dan menggiring peserta didik pada irasionalitas massa,
yang semakin menjauhkan peserta didik dari budaya karakter Indonesia. Hedonisme,
konsumerisme, matrealisme dan pragamatisme semakin mudah kita temukan di
Indonesia, sedangkan budaya karakter yang dibangun para pendiri bangsa ini
tidaklah demikian. Semua tercantum rapi dalam setiap filosofi sila dasar negara
kita.
Seiring dengan penggunaan teknologi sebagai
penunjang pendidikan dalam pembelajaran, anak-anak Indonesia mulai meninggalkan
permainan tradisional. Permainan tradisional merupakan hasil budaya yang besar
nilainya bagi anak dalam rangka berfantasi, berekreasi, berkreasi, berolah raga
yang sekaligus sebagai sarana berlatih untuk hidup bermasyarakat, keterampilan,
kesopanan serta ketangkasan. Permainan tradisional merupakan salah satu aset
budaya yang mempunyai manfaat diantaranya yaitu menumbuhkan jiwa kepemimpinan
pada peserta didik, sebagai sarana
sosialisasi yang dapat menumbuhkan sifat gotong royong, peka sosial, kolaboratif, melatih kreativitas, melatih ketangkasan,
melatih berhitung, melatih untuk berpikir cepat, sebagai sarana olahraga, dan
sebagainya. John Dewey, melalui gagasan konsep pendidikannya mengungkapkan,
bahwa kelas seharusnya merupakan cermin masyarakat dan berfungsi sebagai
laboratorium untuk belajar tentang kehidupan nyata.[3]
Alangkah indahnya, jika pendidikan anak tidak menjauhkan anak dari permaninan
tradisional.
Permainan
tradisional dapat mestimulasi anak dalam mengembangkan kerjasama,
membantu anak menyesuaikan diri, saling berinteraksi secara positif, dapat
mengkondisikan anak dalam mengontrol diri, mengembangkan sikap empati terhadap
teman, menaati aturan, serta menghargai orang lain. Dengan demikian, dapat
dipahami bahwa permainan tradisional dapat memberikan dampak yang sangat baik
dalam membantu mengembangkan keterampilan emosi dan sosial anak. Rasanya dunia
pendidikan kita, harus kembali mengkaji bagaimana Ki Hajar Dewantara pernah
mengungkapkan kodrat seorang anak adalah bergerak dan berfantasi (bermain). Membiarkan
anak menuruti ambisi orang dewasa untuk kemudian unggul-unggulan dalam nilai
dan kecakapan dengan memangkas waktu berfantasinya, akan berdampak pada
paradigma yang terdoktrin dalam alam bawah sadar anak.
***
Memilih
berdiri dengan sederet bangku kosong dalam sebuah gerbong commuterline Manggarai-Duri hampir selalu menjadi pilihanku, karena
itu membuatku lebih leluasa mengamati apa yang terjadi dalam gerbong. Benar saja.
Sesuatu menarik perhatianku, seorang ibu paruh baya, bersama kedua bocah kembarnya
bergoyang mengikuti alunan commuterline,
ku taksir mereka berusia 5-8 tahun. Masing-masing dari mereka sibuk dengan gawai
yang nampaknya telah melekat dalam telapak tangan mungil mereka. Sementara si
ibu masih sibuk dengan lelahnya, membumbui dengan tidur-tidur ayam dengan mulut
setengah terbuka.
“Seharusnya
kedua bocah itu, bergabung bersama anak-anak di jembatan penyeberangan tadi. Setidaknya,
tidak hanya mata dan jempol untuk pergerakan motorik senja ini. Mereka akan
belajar lari maraton jika dikejar petugas, atau mereka akan belajar
menyeimbangkan layang-layang di tengah sempitnya lahan. Atau mereka akan
belajar komunikasi dan sosialisasi dengan orang tak dikenal, mereka akan
belajar mengucapkan permisi ka, mba, mas, pak, bu, bang, ce’ dan lainnya ketika
mereka harus berlari ditengah kerumunan orang yang sedang menyeberang jembatan.”
Tak ada yang mendengarku karena kataku hanya berhenti pada pangkal hati yang
turut membisu.
Akankah
mereka merasa rindu rasanya menunggu musim rambutan, untuk kemudian menumbuk
bijinya dan menyembunyikannya dibawah bebatuan hingga berhari-hari hanya untuk
mendapatkan sepotong tempe jadi-jadian. Proses yang panjang. Akankah mereka
rindu rasa bangganya bisa setinggi orang dewasa karena menggunakan enggrang,
atau rasa pegalnya kaki karena terlalu lama bermain engklek dan jamuran. Akankah
mereka rindu indahnya berimajinasi menjadi joki dunia dengan menaiki pelepah
pisang, atau menjadi atlet arum jeram dengan menaiki sepotong bambu. Atau betapa
menegangkannya bergerilya melawan belanda dengan senjata bambu yang diisi dengan
peluru koran basah di dalamya yang ditiup dari ujung yang berlawanan sampai
pipi terasa kram. Akankah mereka merindukan bau lumpur sawah selesai panen
dengan banyaknya belut dan keong yang sungguh amat mangasikkan mengambilnya. Hingga
kami harus pulang waktu petang saat biyung
selesai dengan nasihat yang telah kami rapalkan berulang-ulang. Atau rasanya
makan ikan bakar hasil tangkapan sendiri yang dibakar di samping kali. Ah, aku
lupa! bagaimana mereka bisa rindu jika mereka saja tidak mengenal bermain
tradisional?
Aku
merasa beruntung dilahirkan ditengah permainan tradisional yang masih cukup
membuatku menjadi anak yang sibuk dengan gerakan motorik. Dan aku percaya setiap
zaman memiliki caranya tersendiri dalam mendidik manusianya. Hanya sedikit
menyayangkan, banyak anak yang tumbuh besar dengan diajarkan melupakan
khayalan. Jadilah realistis seperti orang kebanyakan. Berhenti berkhayal. Duduk
diam di kursi, fokus, dan kerjakan latihan sebanyak-banyaknya. Kemampuan kodrati
anak berimajinasi perlahan dibinasakan. Dan mirisnya itu terjadi di depan
mataku, tanpa aku mampu berbuat banyak. Hanya gelisah. Dan terus bergejolak apa
yang harus kulakukan untuk kegelisahan ini.
Dan keretapun terus membelah perbatasan kota
tanpa dosa.
Manggarai, 19
Februari 2018
Rasanya aku harus berterima kasih kepada Ipeh dan
Chen yang telah menariku kambali dalam khayal dolanan anak yang mulai beranjak
menjadi sejarah dunia anak.
Berdiskusi dan beraksi bagaimana menyisipkan
pelestariannya dalam tantangan global.
Cerita ini aku dedikasikan untuk kalian yang
kuharap tidak pernah menyerah mengembalikan kearifan lokal pendidikan Indonesia
[1]
Joe L.
Kinchelo, Guru sebagai Peneliti:
Pemberdayaan Mutu Guru dengan Metode Panduan Penelitian Kualitatif, diterjemahkan
oleh N. Sya’ran, (2004, Yogyakarta: IRCiSod), h. 17
[2] Satriwan Salim,
Guru Republik (Refleksi Kritis tentang
Isu-isu Pendidikan dan Kabangsaan), (2017, Depok: Indie Publishing), h.104
[3] I Wayan
Santyasa, Model-Model Pembelajarn Interaktif, (2007, Bali: Pendidikan Fisika FPMIPA Universitas Pendidikan
Ganesha), h. 13

Komentar
Posting Komentar